Total Pageviews

Thursday, March 17, 2011

MAHAR

Well..hari ini chating dengan beberapa temen yang juga lagi ribet gila urus ini itu ttg wedding..bahas segala macam mengenai wedding, salah satu bahasannya yaitu ttg MAHAR..

Begitu memutuskan untuk menikah, hal pertama yang aku searching itu adalah tentang mahar dalam islam..aku cari2 informasi sebanyak2 nya tentang mahar ini..soalnya aku ga mau ya, nanti udah repot2 urus ini itu, keluar uang banyak buat bikin pesta resepsi..tapi syarat nikah yang mendasar malah ga terpenuhi..

Jadi dari hasil buruanku di dunia maya, dan tanya2 sama teman yg pemahaman tentang Islam nya sangat jauhhhh diatas aku. Aku ambil kesimpulan bahwa mahar dalam islam itu :
  1. Harta yang diberikan oleh pihak laki2 (calon suami), kepada wanita (calon istri), dan 100% menjadi hak si istri
  2. Mempunyai nilai nominal.
  3. Tidak memberatkan
  4. Bisa digunakan oleh istri bila suatu saat terjadi apa2 dengan suami.
Jujur aja, kalau untuk pemahaman lebih detil lagi aku masih belum paham, at least aku jadi tau lah hakikat dasar mahar dalam islam.

Sekarang juga banyak yah suami yang kasih mahar berupa alat sholat atau Al Qur'an sama istrinya..hmm kalau menurut salah satu artikel yang kubaca, nilai nominal atau ekonomi dari 2 barang itu kan hampir ga ada yah (bukan berarti Alat sholat n Al-Qur'an itu ga berharga yah, cuma emang nilai ekonomi nya hampir ga ada kan), jadi nantinya rancu sendiri, dan takutnya nanti juga jadi bias kan?? Well aku lier sumpah mau ngejelasin, buat lebih jelasnya, aku kasih link nya aja deh ttg "sebaiknya jangan memberi mahar berupa perlengkapan sholat atau Al Qur'an"

Selain perlengkapan alat sholat dan Al Qur'an yang sering di jadikan mahar dalam pernikahan, uang dalam pecahan kecil juga jadi tren buat dijadikan mahar. Kalau aku pribadi..aku emang ga mau mahar itu berupa uang yang nilai nomimalnya dalam keadaan sehari2 sudah tidak bisa terpakai (contohnya mahar bentuk uang yg ada 1 rupiahnya) . Balik lagi ke pengertian mahar yang aku pahami (inget yah..yg aku pahami)  "mahar itu berupa harta yang diberikan oleh suami kepada istri untuk tujuan memuliakan istri"
Harta yg dimaksud itu kan yang ada nilai nominalnya yah, dan diharapkan bisa dipakai oleh si istri..permasalahannya..kalau hartanya itu berupa uang 1 rupiah yang dalam kenyataannya uang pecahan segitu udah ga laku dipasaran (wong 100 perak aja udah hampir ga kepake kan?? ) apa iya masih bisa disebut harta???

Well..itu hanya opini aku ttg mahar yah, dan lagi2 aku tegasin..pengetahuan ku ttg mahar dalam islam sangat amat cetek..jadi sebisa mungkin diriku nda mau untuk mahar itu bias (takutnya nanti ga sah dimata Allah pernikahannya).. kalau temans sekalian mau ada yang share, mungkin berbagi ilmu atau pendapat..monggo dikomen :)

Berikut salah satu artikel ttg mahar.
Apa saja yang boleh dijadikan mahar?
Mas kawin tidak mesti berupa uang atau harta benda, akan tetapi boleh juga hal-hal lainnya. Untuk
lebih jelasnya, berikut ini hal-hal yang dapat dijadikan mas kawin atau mahar:
1.  Semua benda atau alat tukar (uang) yang dapat dijadikan harga dalam jual beli seperti uang
atau benda-benda lainnya yang biasa diperjualbelikan dengan syarat benda atau uang
tersebut, halal, suci, berkembang, dapat dimanfaatkan dan dapat diserahkan. 
Oleh karena itu, harta hasil curian, tidak dapat dijadikan mas kawin karena ia barang haram
bukan halal. Demikian juga, peternakan babi tidak dapat dijadikan mas kawin karena bendanya
tidak suci. Piutang yang belum jelas kembalinya, juga tidak dapat dijadikan mas kawin lantaran
tidak dapat diserahkan. Point pertama ini didasarkan kepada ayat berikut ini:
ْﻢُﻜِﻟاَﻮْﻣَﺄِﺑ ا ﻮ ُﻐ َﺘ ْﺒ َﺗ ْن َأ ْﻢ ُﻜ ِﻟ َذ َء ا َر َو ﺎَﻣ ْﻢ ُﻜ َﻟ ﱠﻞ ِﺣ ُأ َو ).... ءﺎﺴﻨﻟا  : 24 (  
Artinya: "Dan dihalalkan bagi kamu selain yang demikian (yaitu) mencari istri-istri dengan
hartamu…" (QS. An-Nisa: 24).
Kata amwal dalam ayat di atas dipahami oleh para ulama sebagai mas kawin, mahar.
2.  Semua pekerjaan yang dapat diupahkan. 
Menurut Madzhab Syafi'i dan Hanbali, pekerjaan yang dapat diupahkan, boleh juga
dijadikan mahar. Misalnya, mengajari membaca  al-Qur'an, mengajari ilmu agama, bekerja
dipabriknya, menggembalkan ternaknya, membantu membersihkan rumah, ladang atau yang
lainnya. Misalnya, seorang laki-laki berkata: "Saya terima pernikahan saya dengan putri bapak
yang bernama Siti Maimunah dengan mas kawin akan mengajarkan membaca al-Qur'an
kepadanya selama dua tahun, atau dengan mas kawin mengurus ladang dan ternaknya selama dua
bulan". Akan tetapi menurut Abu Hanifah dan Imam Malik, mahar dengan pekerjaan yang dapat
diupahkan hukumnya makruh (dibenci).
Penulis lebih condong untuk mengambil pendapat madzhab Syafi'i yang membolehkan
kerja sebagai mas kawin. Hal ini sebagaimana telah terjadi ketika Nabi Musa menikahi salah
seorang gadis laki-laki tua (dalam satu riwayat dikatakan laki-laki tua itu adalah Nabi Syuaib),
dengan mas kawin bekerja untuk laki-laki tua itu (calon mertuanya) selama delapan tahun
sebagaimana difirmankan oleh Allah swt dalam surat al-Qashash ayat 27:
                          َﺖѧْﻤَﻤْﺗَأ ْن ِﺈ ѧ َﻓ ٍﺞ ѧ َﺠ ِﺣ َﻲ ِﻥ ﺎ ѧ َﻤ َﺛ ﻲِﻥَﺮُﺟْﺄѧَﺗ ْن َأ ﻰ ѧ َﻠ َﻋ ِﻦ ْﻴ َﺗ ﺎ ѧ َه ﱠﻲѧَﺘَﻨْﺑا ىَﺪѧْﺣِإ َﻚ ѧ َﺤ ِﻜ ْﻥ ُأ ْن َأ ُﺪ ѧ ﻳ ِر ُأ ﻲﱢﻥِإ َل ﺎ َﻗ
ْﻨ ِﻋ ْﻦ ِﻤ َﻓ اًﺮْﺸَﻋ َك ِﺪ )  ﺺﺼﻘﻟا  : 27 (  
Artinya: "Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan
salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan
jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah suatu kebaikan) dari kamu" (QS. Al-Qashash:
27).
Dalil lain bolehnya kerja dijadikan sebagai shadaq, mas kawin adalah hadits berikut ini:
       ﻢﻠﺱو ﻪﻴﻠﻋ ﷲا ﻰﻠﺹ ﷲا لﻮﺱر لﺎﻗ )) : ﺐهذا  , نﺁﺮﻘﻟا ﻦﻣ ﻚﻌﻣ ﺎﻤﺑ ﺎﻬﻜﺘﺤﻜﻥأ ﺪﻘﻓ ] ((  ﻩاور
ىرﺎﺨﺒﻟا
Artinya: "Rasulullah saw bersabda: "Pergilah sesungguhnya saya telah menikahkan kamu
dengannya dengan apa ayat-ayat al-Qur'an yang kamu hapal" (HR. Bukhari).
Sebagian ulama menakwilkan kata  bima ma'aka minal qur'an dengan akan mengajarkan
satu atau beberapa surat dari al-Qur'an.
3.  Membebaskan budak. 
Menurut Imam Syafi'i, Imam Ahmad dan Imam Daud ad-Dhahiry, bahwa membebaskan
budak dapat dijadikan sebagai mas kawin. Maksudnya, apabila seseorang hendak menikahi
seorang wainta yang masih menjadi budak belian, kemudian ia membebaskannya dan menjadikan
pembebasannya itu sebagai mas kawinnya, maka boleh-boleh saja. 
Sedangkan menurut sebagian ulama lain, membebaskan budak tidak boleh dijadikan
sebagai mas kawin. 
Dalil kelompok yang membolehkan adalah dalam sebuah hadits dikatakan bahwa
Rasulullah saw menikahi Shafiyyah dengan maskawin membebaskannya dari budak belian
menjadi seorang yang merdeka dan dalam hadits tersebut tidak ada keterangan bahwa hal itu
khusus untuk Rasulullah saw. Karena tidak ada  keterangan kekhususan itulah, maka ia berarti
berlaku dan diperbolehkan juga untuk seluruh ummatnya termasuk kita. Hadits dimaksud adalah
sebagai berikut:
   ﺲѧﻥأ ﻦﻋ )) :                      ﺎﻬﻗاﺪѧﺹ ﺎѧﻬﻘﺘﻋ ﻞѧﻌﺟو ﺔﻴﻔѧﺹ ﻖѧﺘﻋأ ﻢﻠѧﺱو ﻪѧﻴﻠﻋ ﷲا ﻰﻠѧﺹ ﷲا لﻮѧﺱر نأ  ((
] ﻢﻠﺴﻣو ىرﺎﺨﺒﻟا ﻩاور [  
Artinya: "Dari Anas, bahwasannya Rasulullah saw membebaskan Shafiyyah dan menjadikan
pembebasannya itu sebagai mas kawinnya" (HR. Bukhari Muslim).
Sedangkan bagi yang menolak mengatakan bahwa hadits di atas adalah khusus untuk
Rasulullah saw saja. Artinya, mas kawin dengan membebaskan budak itu hanya diperbolehkan
untuk Rasulullah saw saja dan tidak yang lainnya.
Namun demikian, penulis lebih condong untuk mengambil pendapat yang membolehkan
karena sebagaimana telah dijelaskan di atas, tidak ada keterangan dan dalil lain yang mengatakan
bahwa hal itu khusus untuk Rasulullah saja. Karena tidak ada keterangan yang mengkhususkan
itulah, hukum yang dikandung dalam hadits di atas berlaku umum termasuk juga untuk ummatnya.
4.  Masuk Islam. 
Bolehkah seorang laki-laki masuk Islam lalu masuk Islamnya itu dijadikan sebagai mas
kawin? Para ulama berbeda pendapat. Bagi Jumhur ulama, masuk Islamnya seseorang boleh
dijadikan mas kawin. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam hadits berikut ini:
    لﺎѧﻗ ﺲﻥأ ﻦﻋ )) :          ﻢﻴﻠѧﺱ مأ ﺔѧﺤﻠﻃ ﻮѧﺑأ جوﺰѧﺗ  ,           مﻼѧﺱﻹا ﺎѧﻤﻬﻨﻴﺑ ﺎѧﻣ قاﺪѧﺹ نﺎѧﻜﻓ  ,    مأ ﺖﻤﻠѧﺱأ
       ﺎѧﻬﺒﻄﺨﻓ ﺔѧﺤﻠﻃ ﻰﺑأ ﻞﺒﻗ ﻢﻴﻠﺱ  ,   ﺖѧﻟﺎﻘﻓ  :       ﺖﻤﻠѧﺱأ ﺪѧﻗ ﻰѧﻥإ  ,       ﻚѧﺘﺤﻜﻥ ﺖﻤﻠѧﺱأ نﺈѧﻓ  ,     نﺎѧﻜﻓ ﻢﻠѧﺱﺄﻓ
ﺎﻤﻬﻨﻴﺑ ﺎﻣ قاﺪﺹ ] (( ﻰﺋﺎﺴﻨﻟا ﻪﺟﺮﺥأ [  
Artinya: Anas berkata: "Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mas kawinnya adalah
masuk Islam (masuk Islamnya Abu Thalhah). Ummu Sulaim masuk Islam sebelum Abu Thalhah.
Kemudian Abu Thalhah meminangnya. Ketika meminangnya, Ummu Sulaim berkata: "Saya sudah
masuk Islam, jika kamu masuk Islam juga, maka saya siap menikah dengan kamu". Abu Thalhah
akhirnya masuk Islam dan masuk Islamnya itu  dijadikan sebagai mas kawin keduanya" (HR.
Nasa'i).
Sedangkan ulama yang mentidakbolehkan masuk Islamnya seseorang dijadikan mas kawin
adalah Ibnu Hazm. Ibnu Hazm memberikan catatan penting untuk hadits di atas dengan
mengatakan:
Pertama, kejadian dalam hadits di atas terjadi beberapa saat sebelum hijrah ke Madinah,
karena Abu Thalhah termasuk sahabat Rasulullah saw dari golongan Anshar yang masuk Islam
paling awal. Dan pada saat itu, belum ada kewajiban mahar bagi wanita yang hendak dinikahi.
Kedua, dalam hadits di atas juga tidak disebutkan bahwa kejadian itu diketahui oleh
Rasulullah saw. Karena tidak diketahui oleh Rasulullah saw, maka posisinya tidak mempunyai
ketetapan hokum, karena Rasulullah saw tidak mengiyakannya juga tidak melarangnya. Karena
tidak ada kepastian hokum itulah, maka ia harus dikembalikan kepada asalnya, bahwa ia tidak bisa dijadikan sebagai mas kawin. 

Sumber http://indonesianschool.org/dialog/Mahar.pdf

3 comments:

  1. iir sayang...makasih pencerahannya.... gue jd makin disadarkan, heheheh... thanks saayy,,mmuah mmuah ^_^

    ReplyDelete
  2. temen ku ada loh yang mahar nya seperangkat alat sholat + surat ar rahman, jadi pas ijab dia ngaji gt, suara na keren banget sampe yang dateng di akad nangis semua saking terharu nya :)

    ReplyDelete
  3. Emang ga dilarang sih bren..cm balik lagi ke nilai ekonomi dr mahar itu..di atas juga kan di bilang, boleh Mahar berupa Al qur'an kalau tujuannya buat mengajarkan Al Qur'an, atau bacaan ayat...yang jadi masalah, kan sekarang seringnya suami kasih mahar berupa Al Qur'an tapi sebenernya dia sendiri ga menguasai apa isi dr Al Qur'an itu.. jadi kalau gitu dmn dong nilai Ekonominya???

    Kalau kasusnya kaya temen mu bren..berarti dia masuk ke kategori yang kedua dr artikel yang gw kutip :)

    ReplyDelete